Insights
Arta Anindita
•
2 Menit
MemBaca
•
May 20, 2025
Pada Mei 2025, terdapat kesepakatan mengejutkan mengenai penurunan tarif Amerika Serikat dan Tiongkok. Kesepakatan ini berisi pengurangan tarif perdagangan bilateral selama 90 hari. Langkah tersebut menandai perubahan signifikan dalam kebijakan perdagangan, setelah periode panjang peningkatan kebijakan tarif timbal balik yang tajam dan berdampak negatif terhadap ekonomi global.
Berdasarkan laporan Reuters, AS menurunkan tarif impor barang Tiongkok dari 145% menjadi 30%, sedangkan Tiongkok menurunkan tarif atas produk AS dari 125% menjadi 10%. Tujuan utama dari kesepakatan sementara ini adalah meredakan ketegangan perdagangan global dan membuka jalan bagi negosiasi lanjutan.
Alasan utama atas kesepakatan penurunan tarif AS-Tiongkok adalah keinginan bersama untuk menghindari perubahan ekonomi yang merugikan. Kedua negara menyadari pentingnya hubungan ekonomi dan perdagangan bilateral untuk pertumbuhan domestik dan stabilitas ekonomi global. Kedua belah pihak menekankan perlunya hubungan jangka panjang yang berkelanjutan.
Pada April 2025, kebijakan tarif era Trump diberlakukan kembali dengan peningkatan signifikan. AS menerapkan tarif dasar 10% dan hingga 145% pada sejumlah produk impor dari Tiongkok. Sebagai balasan, Tiongkok mengenakan tarif hingga 125% atas produk AS, khususnya di sektor pertanian dan teknologi.
Ketegangan ini menyebabkan penurunan tajam dalam volume perdagangan bilateral, ketidakstabilan pasar, serta gangguan rantai pasok global. Untuk merespons tekanan ekonomi yang meningkat, kesepakatan proses penurunan tarif selama 90 hari dicapai di Jenewa. Berhasil menurunkan tarif AS menjadi 30% dan Tiongkok menjadi 10%.
Meski memberi kelonggaran dalam jangka pendek, ketidakpastian tetap menghantui pelaku usaha dan konsumen terhadap potensi berlanjutnya konflik perubahan tarif.
Penurunan tarif AS dan Tiongkok diperkirakan membantu meredam inflasi global, yang mana juga tergantung pada faktor ekonomi lainnya. Hal ini memberi ruang bagi bank sentral di Asia untuk menyusun kebijakan moneter yang lebih fleksibel sesuai kebutuhan masing-masing negara.
Pasar merespons positif pengumuman tersebut. Beberapa indeks saham global mencatat kenaikan, mencerminkan optimisme investor atas potensi pemulihan aliran perdagangan dan kelonggaran ketegangan global.
Kenaikan ini didorong oleh anggapan bahwa hasil negosiasi tarif adalah kejutan positif yang mengurangi kekhawatiran terhadap stagnasi ekonomi global. Kesepakatan ini dianggap sebagai langkah awal normalisasi hubungan dagang dan membuka peluang pemulihan ekspor serta investasi lintas negara.
Mengutip Investopedia, dampak pengurangan tarif AS-Tiongkok pada sektor teknologi, barang konsumsi, dan energi menunjukkan aktivitas yang meningkat tajam.
Saham sektor teknologi dan barang konsumsi meningkat tajam. Sub-indeks sektor konsumen dalam S&P 500 meningkat sekitar 5,5%, dan sektor teknologi naik 4,5%.
Saham energi juga tercatat mengalami kenaikan. Contohnya, NRG Energy melonjak 25% setelah laporan laba kuartal pertama yang melebihi ekspektasi dan prospek positif.
Kesepakatan sementara mengenai pengurangan tarif antara AS dan Tiongkok mencerminkan perubahan penting dalam arah kebijakan perdagangan global. Sektor teknologi, konsumsi, dan energi menjadi yang paling responsif terhadap perubahan ini. Meski memberikan dorongan jangka pendek, dinamika perdagangan global masih diliputi ketidakpastian, sehingga pemantauan kebijakan yang berkelanjutan menjadi sangat penting.