Insights
Dresyamaya Fiona
•
2 Menit
MemBaca
•
Jul 3, 2025
Asia adalah rumah bagi beberapa produsen emas terbesar dan paling dinamis di dunia, berperan penting dalam pasokan global logam mulia ini. Dari negara dengan ekonomi besar hingga pusat pertambangan yang sedang berkembang, kawasan Asia telah menjadi kontributor signifikan bagi produksi emas dunia.
Dalam artikel ini, kita akan membahas lima produsen emas terbesar di Asia, output produksi terbaru mereka, serta pengaruhnya terhadap industri emas regional dan global. Data ini merujuk pada analisis dari World Gold Council, otoritas terkemuka dalam pasar emas internasional dan tren industri.
Tiongkok telah memegang posisi sebagai produsen emas terbesar di dunia selama lebih dari satu dekade. Pada 2024, negara ini menghasilkan sekitar 380,2 ton emas, menjadikannya bukan hanya yang terbesar di Asia tetapi juga pemimpin global.
Cadangan emas yang melimpah, teknologi pertambangan maju, serta dukungan pemerintah menjadi faktor dominasi Tiongkok. Menurut Mining-Technology Data, provinsi pertambangan utama meliputi Shandong, Henan, dan Jiangxi, dengan perusahaan besar seperti Zijin Mining Group dan Shandong Gold Group. Fokus strategis Tiongkok pada kemandirian serta investasi dalam sumber daya emas domestik memperkuat posisinya di pasar jangka panjang.
Dengan output sebesar 140,1 ton, Indonesia menempati posisi kedua di Asia dan menjadi pemain penting di industri pertambangan global. Industri emas Indonesia didukung oleh operasi skala besar, termasuk Tambang Grasberg di Papua, salah satu tambang emas dan tembaga terbesar di dunia.
Pemerintah Indonesia mendorong peningkatan pengolahan mineral di dalam negeri, termasuk emas, guna meningkatkan nilai tambah serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Meski menghadapi tantangan regulasi, sektor pertambangan emas Indonesia tetap menarik investasi besar dari berbagai pihak, termasuk investor asing dan lembaga produk keuangan yang mencari diversifikasi portofolio.
Filipina menghasilkan sekitar 38,8 ton emas, menempatkannya di urutan ketiga sebagai produsen emas Asia. Meskipun memiliki kekayaan sumber daya mineral, potensi penuh industri pertambangan emas negara ini belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Pertambangan skala kecil menyumbang porsi besar dari produksi emas Filipina. Namun, tantangan seperti isu lingkungan, penambangan ilegal, dan kebijakan yang sering berubah menghambat pertumbuhan. Dengan upaya terbaru untuk meningkatkan transparansi regulasi dan menarik investasi asing, sektor emas Filipina diperkirakan akan memperoleh momentum baru dalam beberapa tahun mendatang.
Turki, yang secara geografis berada di perbatasan Asia dan Eropa, mulai muncul sebagai produsen emas dengan output 30,6 ton. Aktivitas pertambangan meningkat selama dekade terakhir, didorong oleh permintaan domestik dan potensi ekspor.
Inisiatif pemerintah dan dukungan investasi swasta mendorong produksi emas Turki. Ketidakpastian ekonomi global semakin memperkuat permintaan dalam negeri, sekaligus mendorong eksplorasi dan produksi emas lebih lanjut.
Mongolia mungkin belum menjadi produsen emas utama, namun dengan output 12,6 ton, perannya dalam industri terus berkembang. Kaya akan sumber daya mineral dan didukung oleh kemitraan asing, sektor pertambangan Mongolia semakin maju, terutama dengan proyek besar seperti Oyu Tolgoi.
Pemerintah Mongolia berkomitmen menarik investasi pertambangan sekaligus menyeimbangkan tanggung jawab lingkungan dan sosial. Dengan strategi tersebut, Mongolia berpotensi meningkatkan kontribusinya di pasar emas global dalam dekade mendatang, menjadikannya menarik tidak hanya bagi perusahaan tambang tetapi juga bagi investor dan penyedia produk keuangan internasional.