Insights
Dresyamaya Fiona
•
3 minutes
MemBaca
•
Jul 11, 2025
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan inflasi, banyak investor mencari kelas aset alternatif untuk menjaga nilai modal. Salah satu kelas aset yang populer adalah logam mulia. Namun, bagaimana cara mengintegrasikan emas, perak, dan logam lainnya ke dalam strategi investasi jangka panjang secara efektif?
Logam mulia seperti emas, perak, platinum, dan paladium secara historis memiliki nilai intrinsik karena kelangkaannya serta beragam aplikasi industrinya. Investasi logam mulia sering dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, depresiasi mata uang, dan risiko sistemik.
Perannya mirip dengan komoditas pertanian yang juga vital bagi ekonomi global karena menyangkut kebutuhan dasar manusia.
Investor umumnya membeli bentuk fisik seperti koin atau batangan lalu menyimpannya secara lebih aman. Strategi investasi ini memberi kepemilikan nyata serta perlindungan dari risiko sistem keuangan, meski membutuhkan biaya penyimpanan dan asuransi.
Instrumen ini memberikan eksposur tanpa perlu penyimpanan fisik. Mereka mengikuti pergerakan harga logam atau saham perusahaan pertambangan, menawarkan likuiditas dan akses yang lebih mudah.
Berinvestasi pada perusahaan produsen investasi logam mulia memberi potensi keuntungan lebih besar dibanding harga logam itu sendiri. Namun, risikonya juga meliputi faktor operasional dan pasar
Instrumen derivatif ini digunakan investor berpengalaman untuk spekulasi maupun lindung nilai. Namun, diperlukan pemahaman tentang leverage, margin, dan risiko jatuh tempo.
Instrumen ini kompleks dan umumnya hanya cocok bagi investor berpengalaman atau investor terakreditasi, dengan risiko kerugian signifikan.
To successfully integrate precious metals into a long-term investment strategy, consider the following best practices:
Menurut The Economic Times, sebagian analis menyarankan 10–15% portofolio dialokasikan ke investasi logam mulia. Namun, keputusan ini tergantung profil risiko, tujuan finansial, dan pandangan pasar.
Berinvestasi jangan hanya berfokus pada emas. Perak, platinum, dan paladium memiliki profil risiko dan peluang berbeda, dipengaruhi oleh permintaan industri dan tren perdagangan internasional.
Keseimbangan antara kepemilikan fisik (bullion) dan aset berbasis kertas (ETF, reksa dana) dapat membantu mengatur risiko dan likuiditas.
Logam mulia bersifat volatil dalam jangka pendek. Tetap fokus pada strategi investasi jangka panjang.
Setiap bentuk investasi logam mulia memiliki aturan pajak berbeda. Misalnya, bullion fisik di banyak yurisdiksi dikenakan pajak koleksi yang lebih tinggi. Konsultasikan dengan penasihat pajak agar tetap sesuai regulasi.
Logam mulia dapat memainkan peran penting dalam strategi investasi jangka panjang yang terdiversifikasi, terutama saat terjadi ketidakpastian ekonomi, inflasi, atau volatilitas pasar. Baik melalui kepemilikan fisik, instrumen keuangan, maupun investasi ekuitas, logam mulia menawarkan perlindungan sekaligus peluang keuntungan.
Namun, seperti halnya investasi lainnya, investasi logam mulia memerlukan perencanaan yang matang, evaluasi berkelanjutan, dan pemahaman akan risiko yang terkait. Dengan menerapkan strategi yang seimbang dan terinformasi, investor dapat memanfaatkan peran historisnya sebagai alat diversifikasi, meskipun hasilnya dapat bervariasi tergantung kondisi pasar.
DISCLAIMER: All information is based on sources believed to be reliable, but accuracy is not guaranteed. This content is not an offer, recommendation, or advice to buy or sell any financial products. Investing involves risks, and past performance does not guarantee future results. Advice should be sought from a financial adviser regarding the suitability of any investment product or service you may wish to purchase or subscribe to.